Segenggam Kenangan.



Selama hari tak pernah merasa lelah
memendam perasaan seorang laki-laki rapuh,
namun dunia masih terlihat bijaksananya
ketika ia hanya menyempatkan bertawa ria.

Memandangi kacaunya butiran pasir kecil
dan menanti Matahari terlelap dalam gemerlap semesta,
siluet cahaya terlihat dari himpitan perahu kecil
membiarkan kau dan puisi kecilmu hilang
bahkan aku belum sempat membaca klise bait puisi bersama tawamu.

Dunia memang tak dapat menentukan takdirnya,
diatas lembar perjalanan seseorang manusia
tanpa sehelai dosa ia merasakan suka dan duka,
bukankan adil jika sebuah kenangan perlu merasakan,
sebuah pelukan hangat dalam ingatan yang masih menolak lupa.

Disetiap belaian dan tetesan kecil air mata 
Tuhan masih memberikan tumpangan kereta purnama,
lalu membawa berkeliling tanpa sanggup menghembus udara untuk kedua kalinya
dan Takdir telah berseru bahwa apa yang kita lihat 
nantinya hanya akan menjadi segenggam kenangan istimewa.
Previous
Next Post »

2 Komentar Absurd

Click here for Komentar Absurd
Rayung
admin
19 November 2014 at 23:50 ×

Dalem dan menyentuh mas puisinya :)

Reply
avatar

Apapun kicauanmu, berkicaulah... ConversionConversion EmoticonEmoticon

Thanks for your comment